Kamis, 31 Januari 2013

Kunci S u k s e s Versi 

PESANTREN AL-YASINI


                  Apa yang tergambar ketika kita mendengar kata sukses? Yang kuliah mungkin akan bilang sukses itu kalau dapat IP tinggi. Yang lulus kuliah mungkin kalau mendapat pekerjaan mapan dengan gaji tinggi. Yang sudah bekerja mungkin memimpikan pemenuhan segala bentuk fasilitas yang menjadi symbol bahwa ia sudah sukses, misalnya, mobil bagus, rumah megah, dsb. Jadi kesuksesan biasanya diterjemahkan kalau seseorang memperoleh sesuatu yang dicitakan dan umumnya bersifat materi. Salahkah pemaknaan yang seperti ini? Tentu tidak.
Lalu apa sukses menurut santri? Tanpa mengabaikan pemaknaan kesuksesan yang selalu diukur secara materi, tetapi bagi santri ada syarat utama ukuran sukses itu. Sukses itu jika seseorang bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Tanpa bisa memberikan manfaat kepada orang lain, kesuksesan itu kurang memiliki makna. Ada sebuah Hadits Nabi yang selalu menjaga pegangan oleh santri, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya kepada orang lain”.



pemulung sampah gaul (PSG) sedang action memilah plastik yang bisa didaur ulang jadi tas cantik (rindupulang.blogspot.com)
Bergelut dengan persoalan lingkungan ia kemudian tertarik terhadap kajian etika lingkungan, termasuk etika Islam, yang menurutnya kajian ini sangat jarang. Secara kebetulan ia memperoleh informasi ada beasiswa S2 Erasmus Mundus untuk jurusn etika terapan.
Tertarik sama jurusan ini, ia kemudia mendaftar. Ia diterima sebagai salah satu dari 15 orang dari puluhan ribu yang mendaftar di seluruh dunia yang mengambil jurusan etika terapan. Ia pun kuliah S2 di dua Negara selama 1 tahun. Semester satu di Utrecht University di Belanda, dan semester dua di Universitas Sains dan Teknologi Norwegia atau Norges Teknisk-Naturvitenskapelige Universitet (NTNU) Dragvoll, Norwergia.

Karakter Pesantren yang Membentuk Karakternya 

Sebagai seorang yang dibesarkan di pesantren sejak kecil ia banyak belajar terhadap nilai-nilai pesantren. Menurutnya nilai-nilai pesantren yang banyak memperngaruhinya adalah semangat pengabdian untuk melayani ummat. Dan itu ditambatkan pada nilai lain yang memang menjadi karakter pesantren yaitu keikhlasan, dimana perbuatan harus dilakukan secara tulus karena mengharap ridha Allah.
Semangat pengabdian melayani umat inilah yang mendorong ia meninggalkan tawaran pekerjaan dan memilihnya pulang kampung untuk mengabdikan diri dalam dunia pendidikan. Dengan jalan ini ia menganggap jalan hidupnya lebih bermanfaat.
Karakter pesantren lain yang mempengaruhi jalan hidupnya adalah sikap kemandirian. Pesantren yang sudah membiasakan para santri mengatur semua kehidupannya secara mandiri dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan para santri terbentuk mental tahan bantingnya. Sikap ini mendorong para santri untuk tidak menjadi beban masyarakat dengan menganggur atau menjadi pengemis pekerjaan. Para santri telah memiliki mental tahan banting untuk bekerja secara mandiri sambil menebar manfaat kepada orang lain.  Tak perlu minder jadi santri, kata Musthafa kepada para santri yang tekun dan serius mengikuti sharing pengalamannya.

para santri tekun mengikuti bincang inspiratif

seorang santri semangat bertanya (dok pribadi)
Jadi dalam pandangan Mushthafa,  

kunci sukses bagi orang pesantren adalah ketika ia bisa memberikan manfaat kepada orang lain. 
 ''Robith abdul aziz''

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Salam sukses. hehe...

Sejarah berjanji menggunakan jari kelingking

Robith Abdul Aziz mengatakan...

wah harus iku,,, silver kita harus succes jg

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates